Meraih Husnul Khatimah di Akhir Kehidupan
Meraih Husnul Khatimah di Akhir Kehidupan adalah kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc. pada Rabu, 20 Safar 1448 H / 5 Agustus 2026 M.
Kajian Tentang Meraih Husnul Khatimah di Akhir Kehidupan
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’ [34]: 13)
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; dan sedikit sekali mereka itu.” (QS. Shad [38]: 24)
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa kebanyakan manusia di muka bumi bukanlah orang yang pandai bersyukur. Jika seseorang menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang menjadi kesibukan mayoritas manusia, ia akan mudah masuk ke dalam sifat mereka, yaitu sifat orang-orang yang tidak bersyukur.
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am [6]: 116)
Seorang mukmin perlu menjadi asing di tengah kebiasaan mayoritas manusia. Menjadi asing berarti berbeda dari kebiasaan manusia pada zamannya.
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ
“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing.” (HR. Bukhari)
Orang asing tidak selalu ikut membicarakan apa yang dibicarakan kebanyakan orang. Ia tidak menyibukkan diri dengan kesibukan mereka, dan tidak mengejar apa yang mereka kejar.
Meraih Husnul Khatimah
Husnul khatimah merupakan salah satu cita-cita orang beriman. Cita-cita orang beriman tidak berhenti pada urusan dunia semata, tetapi selalu berkaitan dengan kemaslahatan agamanya di dunia hingga akhirat.
Jika cita-cita seseorang berhenti di dunia saja, tidak ada kebaikan pada cita-cita itu. Bahkan, cita-cita tersebut bisa menjadi pintu keburukan bagi dirinya.
Setan selalu mendatangkan keburukan dalam bungkusan kebaikan. Jika sesuatu tidak mengarah kepada kebaikan agama di dunia hingga akhirat, maka ia menyelisihi agama. Tidak ada yang menyelisihi agama kecuali setan dan jalan-jalannya.
Orang beriman mengharapkan keberkahan dalam harta, usia, amal, dan perniagaan. Ia menginginkan hati yang tenang dan tenteram, mudah tunduk kepada Allah, serta hati yang khasyah (takut kepada Allah).
Jika seorang mukmin memiliki harta, ia menginginkan harta yang berkah bagi agamanya. Jika ia memiliki jabatan, ia menginginkan jabatan yang memberi kebaikan baginya di dunia dan akhirat.
Salah satu cara mencari akhirat adalah dengan kepemimpinan yang adil. Dalam hadits sahih riwayat Imam Bukhari disebutkan tujuh golongan yang dinaungi Allah di bawah naungan-Nya dari panas matahari Padang Mahsyar, ketika tidak ada naungan selain naungan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Salah satu di antaranya adalah pemimpin yang adil.
“Tujuh golongan yang Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya; di antaranya pemimpin yang adil.” (HR. Bukhari)
Hal ini menunjukkan bahwa dalam kepemimpinan terdapat jalan untuk mencari kebaikan akhirat, yaitu kepemimpinan yang adil. Karena itu, orang beriman mencari jabatan yang membawa keberkahan baginya di dunia dan akhirat.
Dalam cita-cita akhirat, tidak ada perbedaan di antara kaum mukmin. Seorang mukmin ingin dosanya diampuni Allah, mendapatkan rahmat-Nya, dan memiliki timbangan amal shalih yang berat di Padang Mahsyar.
Ia ingin menerima catatan amalnya dengan tangan kanan, bukan tangan kiri. Ia ingin dijauhkan dari neraka, benar-benar tidak masuk ke dalamnya, diselamatkan ketika melintasi shirath, dan dimasukkan ke dalam surga Allah.
Bahkan, di dalam surga, ia ingin mendapatkan surga tertinggi, yaitu Firdaus. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan umatnya untuk meminta surga Firdaus kepada Allah.
Keterpaduan Bahasan Husnul Khatimah
Dalam bab ini, tidak ada dua mukmin yang berbeda pendapat. Salah satu cita-cita orang beriman adalah wafat di atas husnul khatimah. Sebelum membahasnya, perlu dipahami bahwa agama Allah adalah agama yang padu. Bahasan-bahasannya saling mendukung, saling menguatkan, dan saling mengokohkan.
Satu bahasan tidak bertabrakan dengan bahasan lain, bahkan saling menguatkan seperti satu bangunan yang utuh. Bagian yang satu bermanfaat bagi bagian yang lain, menyempurnakan, dan membutuhkannya. Begitulah agama Allah: satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, tidak dapat diambil sebagian dan dibuang sebagian lainnya.
Pembahasan husnul khatimah berkaitan dengan amal shalih, menjauhi maksiat, istiqamah, amar makruf nahi munkar, memilih teman, memilih lingkungan, kejujuran, dan amanah. Semua bahasan itu merupakan jalan menuju husnul khatimah.
Orang yang menginginkan husnul khatimah hendaknya memperbanyak ketaatan, menjauhi maksiat, memperbanyak teman baik, menjauhi teman buruk, dan istiqamah dalam amal. Walaupun amal itu sedikit, ia tetap dijaga dengan istiqamah. Ia juga memperbanyak berbuat baik kepada manusia, menuntut ilmu, berinfak, dan bersedekah.
Semua bahasan tersebut saling menguatkan dan hasil akhirnya adalah husnul khatimah.
Husnul Khatimah sebagai Awal Kebaikan Akhirat
Siapa pun yang mendambakan kebaikan akhirat dengan sungguh-sungguh, berarti ia juga sungguh-sungguh ingin mendapatkan husnul khatimah. Kebaikan akhirat mulai tampak pada akhir kehidupan.
Apabila akhir kehidupan seorang hamba baik, berada di atas ketaatan, di atas ridha Allah, dan di atas perkara yang Allah cintai serta ridhai secara lahir dan batin, maka setelah itu ia akan memperoleh kebaikan yang didambakannya: di dalam kubur, di Padang Mahsyar, ketika timbangan amal shalih, ketika dihisab, dan ketika melintas di atas sirat.
Semua itu akan terwujud jika akhir hayatnya husnul khatimah. Hal ini diketahui dari agama Allah yang diajarkan melalui ayat-ayat-Nya dan hadits-hadits Nabi-Nya yang tercinta, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Husnul khatimah adalah cita-cita seorang mukmin. Tidak mendapatkannya adalah ketakutan seorang mukmin.
Penilaian Allah dan Penilaian Manusia
Husnul khatimah adalah penilaian Allah terhadap seorang hamba tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Dalam kehidupan dunia, ada dua penilaian terhadap manusia: penilaian manusia dan penilaian Allah. Keduanya bisa sama dan bisa berbeda.
Manusia dapat memandang seseorang sebagai orang shalih, dan Allah juga memandangnya shalih. Manusia juga dapat memandang seseorang tidak shalih, dan Allah pun menilainya tidak shalih. Pada dua keadaan ini, penilaiannya sama.
Namun, penilaian itu juga dapat berbeda. Manusia memandang seseorang shalih, sedangkan Allah menilainya tidak shalih. Na’udzubillahi min dzalik. Sebaliknya, manusia memandang seseorang tidak shalih, tetapi Allah mengetahui bahwa ia orang shalih.
Amal Bergantung pada Penutupnya
Dalam hadits yang sangat masyhur, riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, disebutkan tentang seseorang yang beramal dengan amalan ahli surga, tetapi ketetapan kitab telah menentukan bahwa ia termasuk penduduk neraka. Pada akhir hayatnya ia beramal dengan amalan ahli neraka, wafat di atas amalan ahli neraka, lalu masuk neraka.
Sebaliknya, ada orang yang beramal dengan amalan ahli neraka, tetapi ketetapan kitab telah menentukan bahwa ia termasuk penduduk surga. Pada akhir hayatnya ia beramal dengan amalan ahli surga, wafat di atas amalan ahli surga, lalu masuk surga.
“Ada orang yang beramal dengan amalan ahli surga, tetapi ia termasuk penduduk neraka. Maka pada akhir hayatnya ia beramal dengan amalan ahli neraka, lalu wafat di atasnya dan masuk neraka. Ada pula orang yang beramal dengan amalan ahli neraka, tetapi ia termasuk penduduk surga. Maka pada akhir hayatnya ia beramal dengan amalan ahli surga, lalu wafat di atasnya dan masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari)
Tambahan dalam riwayat Imam Bukhari menyebutkan bahwa amal manusia bergantung pada penutupnya.
Dalam hadits ini, penilaian Allah dan penilaian manusia berbeda. Manusia menilai seseorang rajin beramal dengan amalan ahli surga sehingga dianggap shalih, tetapi Allah tidak menilainya demikian. Maka Allah membuktikan pada akhir hayatnya bahwa amalannya adalah amal yang tidak shalih, dan Allah mewafatkannya di atas amal tersebut.
Sebaliknya, ada orang yang melakukan maksiat dan manusia mengiranya sebagai pelaku maksiat. Namun, Allah menilai ada kebaikan besar pada dirinya. Allah memaafkan dosa dan kesalahannya, mengembalikannya kepada agama pada akhir hayatnya, lalu mewafatkannya di atas kebaikan.
Yang terjadi dalam hal ini adalah penilaian Allah terhadap seseorang berbeda dengan penilaian manusia terhadapnya. Karena itu, yang kita butuhkan adalah penilaian Allah, bukan penilaian manusia. Tidak berguna manusia menilai seseorang shalih jika Allah tidak menilainya demikian.
Kembali kepada hadits Nabi riwayat Imam Bukhari: amal bergantung pada akhirnya. Penutup amal itulah yang menjadi perhatian. Seseorang dapat menutup hidupnya ketika sedang shalat, pulang dari menuntut ilmu, sedang berpuasa, atau setelah berpuasa pada hari Jumat atau malam Jumat.
Di antara tanda kebaikan pada akhir hayat seseorang ialah wafat ketika berada dalam kebaikan, seperti sedang berjihad, berumrah, berhaji, berihram, atau baru pulang dari umrah. Akhir hayatnya berada di atas kebaikan.
Sebaliknya, apabila seseorang wafat setelah melakukan kemaksiatan, hal itu menjadi tanda su’ul khatimah. Husnul khatimah dan su’ul khatimah adalah penilaian Allah terhadap hamba-Nya yang Allah tampakkan pada akhir hayat. Jika ia orang shalih, Allah wafatkan di atas keshalihan. Jika ia bukan orang shalih, Allah wafatkan di atas ketidakshalihan.
Makna hadits bahwa amal bergantung pada penutupnya bukan berarti seseorang boleh menunda keshalihan hingga masa tua. Di sinilah rahasia Allah. Kematian tidak pernah Allah beritahukan kepada hamba-Nya, sedangkan manusia diperintahkan agar wafat dalam keadaan shalih.
Perintah Wafat dalam Keadaan Muslim
Allah memerintahkan hamba-Nya menjadi orang shalih dan wafat di atas keshalihan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 102)
Ayat ini sangat masyhur dalam surah Ali ‘Imran. Pada lafaz “wala tamutunna”, terdapat nun taukid, yaitu nun yang berfungsi menguatkan larangan. Maknanya, jangan benar-benar wafat kecuali dalam keadaan muslim.
Nun taukid ada dua macam: yang lebih ringan tanpa tasydid, dan yang lebih kuat dengan tasydid. Pada ayat ini digunakan nun taukid musyaddadah, sehingga penguatannya benar-benar kuat.
Dalam bahasa Arab, tasydid pun memiliki makna. Inilah salah satu kekayaan bahasa Arab. Karena itu Allah memilihnya sebagai bahasa Al-Qur’an, bahasa kitab-Nya, dan bahasa Nabi-Nya yang tercinta, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam bahasa Indonesia, satu tasydid atau satu garis kecil tidak memiliki makna tersendiri seperti dalam bahasa Arab.
Allah menegaskan kepada manusia agar tidak wafat kecuali dalam keadaan taat, berserah diri kepada Allah, dan melakukan ketaatan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Inilah perintah untuk wafat dalam keadaan shalih, sedangkan waktu wafat tidak diberitahukan.
Istiqamah sebagai Jalan Husnul Khatimah
Bagaimana cara wafat di atas keshalihan, sementara waktu kematian tidak diketahui? Caranya ialah dengan istiqamah. Istiqamah mencakup dua hal: istiqamah dalam ketaatan dan istiqamah dalam meninggalkan kemaksiatan.
Orang yang istiqamah meninggalkan kemaksiatan dan istiqamah melakukan ketaatan akan berada dalam keadaan taat kapan pun kematian datang menjemputnya. Karena itu, istiqamah menjadi cara untuk mewujudkan perintah Allah agar wafat di atas keshalihan.
Dalam Al-Qur’an surah Fussilat, Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang istiqamah.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, malaikat-malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat [41]: 30)
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa turunnya malaikat dan kabar gembira ini terjadi ketika kematian datang. Para malaikat memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang istiqamah di atas keimanannya bahwa Allah menjanjikan surga bagi mereka.
Kabar Gembira Saat Nyawa Dicabut
Dalam hadits shahih dengan banyak riwayat, malaikat maut berkata kepada orang beriman yang nyawanya akan dicabut. Ia dipanggil sebagai jiwa yang tenang, tenteram, dan suci.
“Wahai jiwa yang tenang.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Wahai jiwa yang baik. Keluarlah dari tubuh ini menuju ampunan dari Allah dan keridaan-Nya.”
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa sebelum malaikat maut mengambil nyawanya, orang mukmin diperlihatkan neraka terlebih dahulu. Dikatakan kepadanya bahwa itulah tempatnya di neraka seandainya ia hidup tanpa ketaatan kepada Allah.
Kemudian ia diperlihatkan surga. Dikatakan kepadanya bahwa karena hidupnya taat, itulah tempatnya di surga. Allah mengganti tempatnya di neraka dengan tempat di surga. Ia pun gembira dan ingin segera mati karena telah melihat tempatnya di surga, sehingga ia ingin segera bertemu dengan Allah.
Ketika seseorang telah melihat surga, seluruh keinginan dunia hilang. Ia sangat ingin bertemu dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya.
Keadaan sebaliknya terjadi pada orang yang su’ul khatimah. Pertama, ia diperlihatkan surga dan dikatakan bahwa tempat itu telah Allah siapkan seandainya ia hidup dalam ketaatan. Namun karena ia tidak mau taat, ia diperlihatkan neraka. Tempatnya di surga diganti dengan tempat di neraka karena ia tidak mau taat.
Tempat di Surga dan Neraka
Orang kafir telah Allah siapkan tempat di surga, sebagaimana ia juga memiliki tempat di neraka. Orang mukmin pun, sebagaimana disebutkan dalam hadits sebelumnya, memiliki tempat di neraka sebagaimana ia memiliki tempat di surga.
Karena itu, penduduk surga disebut sebagai orang-orang yang mewarisi. Salah satu tafsirnya, mereka mewarisi tempat-tempat kosong yang tidak didatangi oleh pemiliknya.
أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ
“Mereka itulah orang-orang yang mewarisi.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 10)
Tempat itu telah disediakan untuk seseorang, tetapi ia tidak pernah datang karena tidak keluar dari neraka. Akhirnya, Allah mewariskannya kepada penduduk surga. Dalam tafsir Surah Al-Mu’minun, salah satu maknanya adalah Allah mewariskan kepada penduduk surga tempat-tempat yang telah disiapkan bagi orang-orang yang ternyata kekal di neraka.
Dengan demikian, penduduk surga mewarisi tempat-tempat orang kafir yang telah Allah siapkan. Namun, hal yang sama tidak disebutkan dalam ayat tentang neraka, karena Allah tidak memberi balasan kecuali sesuai dengan perbuatan.
Istiqamah sebagai Jalan Husnul Khatimah
Untuk meraih husnul khatimah, seseorang harus istiqamah. Tanpa istiqamah, cita-cita meraih husnul khatimah tidak mungkin terwujud. Istiqamah adalah jalan menuju husnul khatimah.
Sifat manusia tampak pada karakter yang terus dikerjakan dan diulang. Jika seseorang berhasil mendidik sifatnya di atas perkara yang Allah ridhai, diharapkan wafatnya pun berada di atas keadaan itu.
Sebaliknya, orang yang tidak peduli akan membentuk karakternya di atas maksiat. Mulut tidak dijaga, harta tidak dijaga, pergaulan tidak dijaga, dan tontonan tidak dijaga. Akhirnya, maksiat dianggap sebagai kesukaan, dunia, dan karakter hidupnya.
Keadaan seperti itu bukan bawaan yang tidak dapat diubah. Seseoranglah yang menjadikannya permanen melalui kebiasaan. Allah tidak akan memerintahkan sesuatu yang mustahil. Menjadi shalih memang berat dan membutuhkan perjuangan, tetapi bukan mustahil.
Siapa pun orangnya dan seburuk apa pun masa lalunya, menjadi orang shalih bukanlah hal mustahil. Ia memang berat, membutuhkan perjuangan, tangisan, bahkan kadang-kadang harus melewati kefakiran.
Ujian Meninggalkan Maksiat
Orang yang keluar dari maksiat menuju ketaatan mungkin harus menghadapi ujian berat. Nabi dan para sahabat yang telah berada di atas ketaatan pun Allah uji dengan kefakiran.
Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat hijrah dari Makkah ke Madinah, mereka harus meninggalkan banyak hal. Utsman yang kaya raya harus meninggalkan hartanya di Makkah. Di Madinah, ia harus memulai hidup tanpa mengetahui akan tinggal di rumah mana dan memulai usaha dari mana.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga meninggalkan Makkah dan rumah yang beliau warisi dari ayahnya, rumah beliau bersama Khadijah radhiallahu anha. Beliau berpindah ke Madinah tanpa mengetahui tempat tinggal yang akan ditempati.
Begitu pula nasib seluruh kaum Muhajirin dari Makkah ke Madinah. Abdurrahman bin Auf, saudagar kaya di Makkah, datang ke Madinah tanpa bekal harta. Bekalnya adalah ketakwaan kepada Allah dan kemampuan berdagang. Ia memulai lagi dari nol dan pergi ke pasar.
Jika orang yang telah taat saja Allah uji dengan kefakiran, maka orang yang meninggalkan maksiat menuju ketaatan juga harus siap menghadapi ujian. Allah menguji siapa di antara hamba-Nya yang benar-benar ridha dengan keputusan-Nya dan siap menghadapi rintangan dunia demi meraih ridha Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Sebagian maksiat menghasilkan penghasilan haram. Ketika ingin meninggalkannya, seseorang takut kehilangan nafkah dan tidak tahu akan makan apa. Namun, jalan menuju husnul khatimah adalah istiqamah.
Rahasia Waktu Kematian
Allah memerintahkan hamba-Nya wafat di atas husnul khatimah dan keshalihan, tetapi Allah tidak memberitahukan kapan kematian datang. Ini adalah rahasia Allah yang luar biasa. Di dalam rahasia itu terdapat kebaikan besar bagi manusia.
Allah tidak memberikan kepada hamba-Nya kecuali kebaikan. Seluruh syariat yang Allah tetapkan adalah untuk kebaikan manusia. Allah tidak membutuhkan manusia, dan Allah senang jika manusia selamat.
Allah lebih gembira dengan tobat seorang hamba daripada kegembiraan seorang lelaki yang disebutkan dalam hadits.
Nilai Manusia Diletakkan di Akhir
Allah meletakkan nilai seorang manusia pada akhir kehidupannya karena dua hikmah. Pertama, agar orang yang berbuat maksiat mudah bertobat. Kedua, agar orang yang telah banyak berbuat maksiat tidak larut dalam kesedihan atas masa lalunya setelah bertobat.
Kepada pelaku maksiat dikatakan bahwa sebelum kematian datang, pintu tobat masih terbuka.
Rahmat Allah terbuka luas. Ampunan Allah juga terbuka luas. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjanjikan bahwa taubat menghapus seluruh dosa yang dilakukan sebelum seseorang bertaubat.
Selama kematian belum datang dan umur masih tersisa, seseorang masih memiliki kesempatan untuk bertaubat dengan sebenar-benar taubat, yaitu taubatan nasuha. Apabila hari ini ia meninggalkan kekufuran, kesyirikan, dan kemaksiatan dengan taubat yang sungguh-sungguh, lalu esoknya wafat tanpa ada tanda-tanda kematian sebelumnya, maka sangat mungkin ia menjadi penduduk surga.
Kematian mendadak banyak terjadi, terlebih pada akhir zaman. Seseorang dapat bertaubat hari ini, lalu pada hari yang sama naik pesawat, atau esoknya mengalami kecelakaan. Sebelumnya tidak ada tanda-tanda kematian yang membuatnya bertaubat karena sakit menjelang ajal, sebagaimana keadaan Fir’aun.
Dalam hadits tentang orang yang telah membunuh seratus jiwa, malaikat rahmat dan malaikat azab berbeda pendapat. Dari orang itu belum tampak keshalihan, baru tampak taubatnya. Malaikat rahmat mengatakan bahwa ruh itu menjadi bagiannya karena ia telah bertaubat. Malaikat azab mengatakan bahwa ruh itu menjadi bagiannya karena ia belum beramal shalih sedikit pun.
“Seseorang telah membunuh seratus jiwa, lalu ia bertaubat dan pergi menuju negeri yang baik. Di tengah perjalanan ia meninggal. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih tentangnya.”
Berdasarkan hadits ini, seseorang yang benar-benar bertaubat dari kesyirikan dan kekufuran, lalu meninggal keesokan harinya, memiliki harapan besar untuk masuk surga. Allah akan memasukkannya ke dalam surga-Nya.
Makna ini memberi semangat besar untuk bertaubat. Masa lalu tidak lagi dijadikan beban dosa. Secara catatan, perbuatan itu tetap ada. Namun secara dosa, ia telah dihapus.
Keburukan yang Diganti Menjadi Kebaikan
Allah berjanji bahwa orang yang bertaubat akan diganti keburukannya menjadi kebaikan. Dalam Surah Al-Furqan disebutkan bahwa Allah mengganti perbuatan-perbuatan buruk mereka menjadi kebaikan.
فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ
“Maka mereka itu Allah ganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan.” (QS. Al-Furqan [25]: 70)
Di antara tafsir ayat ini, sebanyak jumlah keburukan dan maksiat yang pernah dilakukan seseorang, pada poin yang sama Allah memberinya pahala. Karena itu, selama belum wafat, nyawa masih berada di badan, dan napas masih ada, pintu taubat masih terbuka.
Di antara hikmah besar dari kaidah bahwa amal bergantung pada akhirnya ialah memberi semangat kepada orang yang masa lalunya buruk, walaupun usianya sudah tua dalam kemusyrikan. Banyak orang yang bertaubat masih bersedih karena masa lalunya yang suram, kelam, banyak menyakiti orang lain, termasuk kedua orang tua dan keluarganya.
“Sesungguhnya amal itu bergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari)
Kaidah ini menegaskan bahwa Allah tidak menilai seseorang berdasarkan masa lalunya. Allah menilai keadaan seseorang ketika wafat.
Peringatan bagi Orang yang Taat
Kaidah bahwa amal bergantung pada penutupnya juga penting bagi orang yang taat. Ia tidak boleh sombong dengan ketaatannya. Amal bergantung pada akhirnya.
Seseorang tidak boleh membanggakan keadaan dirinya saat ini atau amal yang telah dilakukannya. Allah tidak menilai seseorang hanya dari keadaan sekarang. Penilaian Allah terjadi ketika seseorang wafat.
Ada orang yang sombong dengan amalnya. Kesombongan seperti itu diredam oleh kaidah bahwa amal bergantung pada akhirnya, bukan semata-mata pada keadaan sekarang atau masa lalu. Amal yang ada sekarang dan amal yang telah lalu tidak dapat dibanggakan, karena penilaian bukan berada di situ.
Karena itu, seseorang tidak boleh sombong dengan keadaannya sekarang. Orang shalih yang benar-benar shalih tidak menganggap dirinya shalih, sebab ia sadar bahwa penilaian Allah berada di akhir kehidupan. Ia tidak mengetahui bagaimana akhir hidupnya, apa yang terjadi ketika malaikat maut datang menjemput, dan apakah ia wafat di atas ketaatan atau tidak.
Kaidah ini bermanfaat bagi orang shalih agar terus istiqamah dan tidak sombong dengan amal yang telah ada. Dengan begitu, ia tidak merendahkan orang lain, tidak memandang orang lain dengan sebelah mata, tidak mengecilkan orang lain, tidak menghina orang lain, dan tidak merasa selalu lebih tinggi atau lebih hebat.
Penilaian Akhir Menjaga Istiqamah
Keadaan sekarang belum akhir dan belum final. Segala sesuatu dapat berubah. Hati dapat terbolak-balik. Fitnah ada di mana-mana. Karena itu, seseorang belum mengetahui nasib akhirnya.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Dengarkan dan Download Kajian Meraih Husnul Khatimah di Akhir Kehidupan
Podcast: Play in new window | Download
Jangan lupa untuk turut menyebarkan kebaikan dengan membagikan link kajian “Meraih Husnul Khatimah di Akhir Kehidupan” ini ke media sosial Antum. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Antum semua.
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56436-meraih-husnul-khatimah-di-akhir-kehidupan/